Showing posts with label Pengembangan Diri. Show all posts
Showing posts with label Pengembangan Diri. Show all posts

Thursday, November 7, 2024

Moderasi Beragama dalam Mencintai dan Merawat Lingkungan πŸŽ‹πŸ•Š️

AI-image Produced

Moderasi beragama bukan hanya tentang hubungan kita dengan Tuhan, tetapi juga bagaimana ajaran agama dapat mendorong kita untuk hidup harmonis dengan sesama manusia, hewan, dan lingkungan. Di dunia yang penuh keragaman ini, sikap moderat dalam beragama dapat menjadi jalan bagi terciptanya masyarakat yang toleran, peduli, dan bertanggung jawab terhadap alam.

Moderasi Beragama sebagai Kunci Pembangunan Bangsa, Kemajuan Peradaban, dan Perbaikan Alam πŸ¬πŸ›Έ

AI-image Produced

Moderasi beragama adalah fondasi penting dalam membangun masyarakat yang damai, harmonis, dan berkelanjutan. Sikap ini mencerminkan keseimbangan dalam menjalankan keimanan tanpa mengabaikan realitas sosial yang ada di sekitar kita. Bukan hanya sebagai panduan spiritual, moderasi beragama juga berperan strategis dalam pembangunan bangsa, kemajuan peradaban, dan perbaikan alam serta lingkungan. Melalui moderasi, setiap individu dapat berkontribusi secara positif dalam menciptakan masyarakat yang rukun, memajukan ilmu pengetahuan, serta melestarikan alam dan sumber daya.

Wednesday, November 6, 2024

Memaknai Moderasi Beragama bagi Insan Beriman πŸ•Œ ⛪ ⛩️ 🎎


AI-image Produced

Moderasi beragama adalah sikap yang esensial bagi setiap individu yang beriman. Sikap ini menuntun kita untuk tetap teguh pada keyakinan, memelihara akidah dengan penuh kesadaran tanpa harus merendahkan atau menafikkan agama lain. Di tengah dunia yang majemuk, moderasi beragama bukan berarti melemahkan iman atau membuka celah untuk kebingungan, tetapi merupakan bentuk keimanan yang kokoh dan paham akan posisi kita dalam keragaman.

Saturday, February 18, 2023

Bagaimana menumbuhkan semangat belajar secara mandiri bagi mahasiswa?

 

Menumbuhkan semangat belajar secara mandiri adalah keterampilan penting bagi mahasiswa, karena mereka perlu belajar secara terus-menerus sepanjang masa kuliah dan bahkan setelah lulus kuliah. Berikut adalah beberapa tips untuk menumbuhkan semangat belajar secara mandiri bagi mahasiswa:

Wednesday, February 15, 2023

Bagaimana meluangkan waktu untuk upgrade ilmu dan pengetahuan bagi seorang dosen?

Meluangkan waktu untuk upgrade ilmu dan pengetahuan sangat penting bagi seorang dosen. Berikut adalah beberapa tips untuk meluangkan waktu untuk upgrade ilmu dan pengetahuan bagi seorang dosen:

Sunday, January 15, 2023

Bagaimana cara agar beberapa pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik untuk orang yang susah fokus dan perfeksionis?


Jika seseorang sulit fokus dan perfeksionis, maka ada beberapa cara yang dapat membantu mereka menyelesaikan beberapa pekerjaan, yaitu:

  1. Buat daftar prioritas
    Membuat daftar prioritas akan membantu seseorang untuk fokus pada tugas yang paling penting dan memungkinkan mereka menyelesaikan tugas tersebut terlebih dahulu.

Wednesday, December 28, 2022

Apa yang bisa kita lakukan ketika merasa sendiri dan demotivasi dalam hal yang sedang dikerjakan dan yang ingin dicapai?

 

Merasa sendiri dan demotivasi dalam hal yang sedang dikerjakan dan ingin dicapai adalah hal yang umum terjadi. Berikut adalah beberapa hal yang dapat dilakukan ketika merasa demotivasi dan sendiri:

Tuesday, October 18, 2022

Bagaimana cara bertahan pada lingkungan kerja yang toxic?


Bertahan pada lingkungan kerja yang toxic dapat menjadi sulit dan menantang. Namun, berikut adalah beberapa tips yang dapat membantu seseorang untuk bertahan pada lingkungan kerja yang toxic:

Wednesday, November 17, 2021

8 (Delapan) Hal yang Perlu Diketahui untuk Membangun Impresi Positif Diri

1. Knowing Ur Self (ketahui diri sendiri) 
Tidak ada orang yang selayaknya memahami kita melebihi diri kita sendiri. Dengan memahami kelebihan dan kelemahan diri kita sendiri akan menajamkan langkah-langkah kita dalam meraih kesuksesan. Cara untuk mengenali diri kita dapat dilakukan dengan dua langkah. Langkah pertama adalah “bercermin”, melakukan dialog dengan diri kita sendiri tentang kelebihan yang kita miliki dengan mengingat hal-hal sukses yang pernah kita alami dan factor penyebabnya pada saat itu.

Tuesday, March 15, 2016

AL-QUR'AN DAN SANG JENDERAL (diangkat dari kisah nyata)

Suatu sore pada tahun 1525, penjara tempat orang tahanan terasa hening mencengkam. Jenderal Adolf Roberto, pemimpin penjara yg terkenal bengis, tengah memeriksa setiap kamar tahanan.

Setiap sipir penjara membungkukkan badannya rendah² ketika 'algojo penjara' itu berlalu di hadapan mereka. Karena kalau tidak, sepatu 'jenggel' milik tuan Roberto yg fanatik ... itu akan mendarat di wajah mereka.

Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar seseorang mengumandangkan suara² Ayat Suci yang amat ia benci.
"Hai ... hentikan suara jelekmu! Hentikan!!!" teriak Roberto sekeras-kerasnya sembari membelalakkan mata.

Namun apa yang terjadi? Laki² di kamar tahanan tadi tetap saja bersenandung dg khusyu'nya. Roberto bertambah berang. Algojo penjara itu menghampiri kamar tahanan yg luasnya tak lebih sekadar cukup untuk 1 orang.

Dg congkak ia menyemburkan ludahnya ke wajah renta sang tahanan yg keriput hanya tinggal tulang. Tak puas sampai di situ, ia lalu menyulut wajah dan seluruh badan orang tua renta itu dg rokoknya yg menyala.

Sungguh ajaib ... tak terdengar secuil pun keluh kesakitan. Bibir yg pucat kering milik sang tahanan amat gengsi untuk meneriakkan kata kepatuhan pada sang algojo, bibir keringnya hanya berkata lirih, "Rabbi, wa-ana 'abduka."

Tahanan lain yg menyaksikan kebiadaban itu serentak bertakbir sambil berkata, "Bersabarlah wahai ustadz ... Insyaa Allah tempatmu di Syurga."
Melihat kegigihan orang tua yg dipanggil ustadz oleh sesama tahanan, 'algojo penjara' itu bertambah memuncak amarahnya.

Ia perintahkan pegawai penjara untuk membuka sel, dan ditariknya tubuh orang tua itu keras² hingga terjerembab di lantai.
"Hai orang tua busuk!! Bukankah engkau tahu, aku tidak suka bahasa jelekmu itu?! Aku tidak suka apa-apa yg berhubung dg agamamu!!"

Sang Ustadz lalu berucap, "Sungguh ... aku sangat merindukan kematian, agar aku segera dapat menjumpai kekasihku yg amat kucintai, Allah Subhanahu wa ta'ala ... Karena kini aku berada di puncak kebahagiaan karena akan segera menemuiNya, patutkah aku berlutut kepadamu, hai manusia busuk? Jika aku turuti kemauanmu, tentu aku termasuk manusia yg amat bodoh."

Baru saja kata² itu terhenti, sepatu laras Roberto sudah mendarat di wajahnya. Laki² itu terhuyung. Kemudian jatuh terkapar di lantai penjara dg wajah bersimbah darah.

Ketika itulah dari saku baju penjaranya yg telah lusuh, meluncur sebuah 'buku kecil'. Adolf Roberto bermaksud memungutnya. Namun tangan sang Ustadz telah terlebih dahulu mengambil dan menggenggamnya erat².

"Berikan buku itu, hai laki² dungu!" bentak Roberto.
"Haram bagi tanganmu yg kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh barang suci ini!" ucap sang ustadz dg tatapan menghina pada Roberto.

Tak ada jalan lain, akhirnya Roberto mengambil jalan paksa untuk mendapatkan buku itu. Sepatu laras berbobot dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak jari² tangan sang ustadz yg telah lemah. Suara gemeretak tulang yg patah terdengar menggetarkan hati. Namun tidak demikian bagi Roberto.

Laki² bengis itu malah merasa bangga mendengar gemeretak tulang yg terputus. Bahkan 'algojo penjara' itu merasa lebih puas lagi ketika melihat tetesan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yg telah hancur.

Setelah tangan renta itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yg membuatnya penasaran. Perlahan Roberto membuka sampul buku yg telah lusuh. Mendadak algojo itu termenung.

"Ah ... sepertinya aku pernah mengenal buku ini. Tapi kapan? Ya, aku pernah mengenal buku ini," suara hati Roberto bertanya-tanya.
Perlahan Roberto membuka lembaran pertama buku itu.

Pemuda berumur tiga puluh tahunan itu bertambah terkejut tatkala melihat tulisan² "aneh" dalam buku itu. Rasanya ia pernah mengenal tulisan seperti itu dahulu. Namun, sekarang tak pernah dilihatnya di bumi Spanyol. Akhirnya Roberto duduk di samping sang ustadz yg telah melepas nafas-nafas terakhirnya. Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda tanya yg dalam.
Mata Roberto rapat terpejam. Ia berusaha keras mengingat peristiwa yg dialaminya sewaktu masih kanak². Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan Roberto.

Pemuda itu teringat ketika suatu sore di masa kanak²nya terjadi kericuhan besar di negeri tempat kelahirannya ini.
Sore itu ia melihat peristiwa yg mengerikan di lapangan Inkuisisi (lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia).
Di tempat itu tengah berlangsung pesta darah dan nyawa.
Beribu-ribu jiwa tak berdosa berjatuhan di bumi Andalusia.
Di ujung kiri lapangan, beberapa puluh wanita berhijab (jilbab) digantung pada tiang² besi yg terpancang tinggi.
Tubuh mereka bergelantungan tertiup angin sore yg kencang, membuat pakaian muslimah yg dikenakan berkibar-kibar di udara.

Sementara, di tengah lapangan ratusan pemuda Islam dibakar hidup² pada tiang² salib, hanya karena tidak mau memasuki agama yang dibawa oleh para rahib.

Seorang bocah laki² mungil tampan, berumur tujuh tahunan, malam itu masih berdiri tegak di lapangan Inkuisisi yg telah senyap. Korban² kebiadaban itu telah syahid semua.

Bocah mungil itu mencucurkan airmatanya menatap sang ibu yg terkulai lemah di tiang gantungan. Perlahan-lahan bocah itu mendekati tubuh sang ummi (ibu) yg sudah tak bernyawa, sembari menggayuti abayanya.

Sang bocah berkata dg suara parau, "Ummi ... ummi ... mari kita pulang. Hari telah malam. Bukankah ummi telah berjanji malam ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba, ta, tsa ....? Ummi, cepat pulang ke rumah ummi ..."

Bocah kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak jua menjawab ucapannya. Ia semakin bingung dan takut, tak tahu harus berbuat apa. Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah.

Akhirnya bocah itu berteriak memanggil bapaknya, "Abi ... Abi ... Abi ..."
Namun ia segera terhenti berteriak memanggil sang bapak ketika teringat kemarin sore bapaknya diseret dari rumah oleh beberapa orang berseragam.

"Hai ... siapa kamu?!" teriak segerombolan orang yang tiba-tiba mendekati sang bocah.
"Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi," jawab sang bocah memohon belas kasih.
"Hah ... siapa namamu bocah, coba ulangi!" bentak salah seorang dari mereka.
"Saya Ahmad Izzah ..." sang bocah kembali menjawab dg agak grogi.
Tiba² "plak! sebuah tamparan mendarat di pipi sang bocah.
"Hai bocah ...! Wajahmu bagus tapi namamu jelek. Aku benci namamu. Sekarang kuganti namamu dengan nama yg bagus. Namamu sekarang 'Adolf Roberto' ... Awas! Jangan kau sebut lagi namamu yg jelek itu. Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan kubunuh!" ancam laki² itu.

Sang bocah meringis ketakutan, sembari tetap meneteskan air mata. Anak laki-laki mungil itu hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya keluar lapangan Inkuisisi. Akhirnya bocah tampan itu hidup bersama mereka.

Roberto sadar dari renungannya yg panjang. Pemuda itu melompat ke arah sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yg melekat pada tubuh sang ustadz. Ia mencari-cari sesuatu di pusar laki-laki itu. Ketika ia menemukan sebuah 'tanda hitam' ia berteriak histeris, "Abi ... Abi ... Abi ..."

Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu.

Pikirannya terus bergelut dg masa lalunya. Ia masih ingat betul, bahwa buku kecil yg ada di dalam genggamannya adalah Kitab Suci milik bapaknya, yg dulu sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak menidurkannya.
Ia juga ingat betul ayahnya mempunyai 'tanda hitam' pada bagian pusar.

Pemuda beringas itu terus meraung dan memeluk erat tubuh renta nan lemah. Tampak sekali ada penyesalan yg amat dalam atas ulahnya selama ini. Lidahnya yg sudah berpuluh-puluh tahun alpa akan Islam, saat itu dengan spontan menyebut, "Abi ... aku masih ingat alif, ba, ta, tsa ..."
Hanya sebatas kata itu yg masih terekam dalam benaknya.

Sang ustadz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yg membasahi wajahnya.
Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat seseorang yg tadi menyiksanya habis²an kini tengah memeluknya. "Tunjuki aku pada jalan yg telah engkau tempuh Abi, tunjukkan aku pada jalan itu ..." terdengar suara Roberto memelas.

Sang ustadz tengah mengatur nafas untuk berkata-kata, ia lalu memejamkan matanya. Air matanya pun turut berlinang. Betapa tidak, jika sekian puluh tahun kemudian, ternyata ia masih sempat berjumpa dg buah hatinya, di tempat ini. Sungguh tak masuk akal. Ini semata-mata bukti kebesaran Allah.

Sang Abi dg susah payah masih bisa berucap, "Anakku, pergilah engkau ke Mesir. Di sana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa engkau kenal dg Syaikh Abdullah Fattah Ismail Al-Andalusy. Belajarlah engkau di negeri itu."

Setelah selesai berpesan sang ustadz menghembuskan nafas terakhir dg berbekal kalimah indah, "Asyhadu an-laa Ilaaha illalloh, wa asyhadu anna Muhammadan Rasullulloh ...'.
Beliau pergi menemui Rabbnya dg tersenyum, setelah sekian lama berjuang di bumi yg fana ini.

Kemudian..
Ahmad Izzah mendalami Islam dg sungguh² hingga akhirnya ia menjadi seorang alim di Mesir. Seluruh hidupnya dibaktikan untuk Islam, sebagai ganti kekafiran yg di masa muda sempat disandangnya. Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru dunia berguru dengannya. Dialah ... "Al-Ustadz Ahmad Izzah Al-Andalusy".
-----------------
Benarlah firman Allah ...

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."
(QS:30:30)

Masya Allah...
Semoga kisah ini dapat membuat hati kita luluh dengan hidayah Allah yang  mudah-mudahan dapat masuk mengenai qolbu kita untuk tetap taat kepadaNya.

Monday, April 23, 2012

Empat Hal yang Membuat Menangis

Banyak orang dengan sangat mudah untuk menangis. Terlebih dengan kehidupan saat ini yang benar-benar sulit bagi seseorang yang baru mulai merasakan pahitnya hidup sepeti orang yang seumuran dengan saya. Hal kecil dan begitu banyak hal yang dapat membuat air mata tertumpah. Namun bagi saya, as the boy, bukan hal yang mudah bagi saya untuk bersimpati dan menangis. Banyak teman-teman saya yang begitu mudah untuk menangis justru membuat saya menjadi tertawa. Hal yang bodoh bagi seorang cewek yang menangisi perilaku cowoknya atau diputusin pacarnya. Hal yang benar-benar gila atau tidak masuk akal bagi cowok yang menangis karena cewek (pacarnya). Memalukan. Hal tersebut benar-benar tidak ada dalam kamus (benak) saya. Totally, saya sangat kasihan pada orang-orang yang seperti ini, dan berpikir, apa yang ada dibenak orang seperti ini. Tidak cukupkah mereka mendapat kasih sayang dari orang tua, dari sahabat, dari keluarga yang mencintainya tanpa syarat, serta nikmat dari Allah sehingga mau membuang-buang waktu untuk hal yang semu yang mereka sebut ‘cinta’.


1. Kebahagian orang tua Hal yang berkaitan dengan kebahagian orang tua yang terikat dengan cita-cita pribadi saya adalah hal pertama yang paling dapat membuat air mata saya jatuh di luar kendali saya. Ketika saya berfikir mengenai apa yang telah saya perbuat sejauh ini terhadap kebahagiaan orang tua saya atas segala pencapaian hidup sering membuat saya menangis pada malam-malam yang sunyi. Bagi saya, kebahagian Ayah dan Ibu yang telah berlelah-lelah dalam hidup demi saya adalah hal yang paling utama pencapaian kesuksesan dalam hidup saya. Tiada hal lain yang dapat menggantikan goal no 1 selain hal ini.saya tidak sanggup melihat kedua orang tua saya terus bekerja untuk menafkahi saya sampai lanjut usia. itulah mengapa saya tidak pernah mau menambah kesusahan mereka dengan berbagai permintaan materi yang banyak dilakukan teman saya. Saya cukup bersyukur atas apa yang telah mampu mereka berikan kepada saya. 

2. Lapar saya sebenarnya adalah orang yang melankolis. Tapi juga orang yang sangat cerdas untuk kontrol emosi, sehingga dapat bertindak wajar dan jarang berlebihan (terlalu senang/ susah). As I told you, saya paling tidak bisa melihat teman dalam kesusahan sementara saya mampu untuk menolongnya. Sebuah kejahatan besar bagi saya ketika saya bisa makan enak sehingga kekenyangan dengan tanpa memikirkan keadaan teman disamping saya yang sedang kelaparan. Saya tahu bagaimana rasanya menahan rasa lapar. Saya tahu bagaimana melihat orang makan di hadapan kita pada saat lapar. Hal itu benar-benar menyiksa. Pada saat itulah air mata saya menetes tanpa dapat saya tahan ketika dalam ketidakberdayaan untuk membeli makanan/ keterbatasan uang pada suatu waktu. 

3. Cerita/film kehidupan Pada suatu saat saya menonton acara/ film di tv atau di computer, sometimes ketika cerita/ film tentang kehidupan itu benar-benar menyentuh, saya pasti akan menangis. Dibalik semua itu, hal ini berarti, hati kecil kita dapat tersentuh melalui indera sementara otak tidak dapat mengontrolnya. Pada saat itulah menangis menjadi hal yang lumrah. 

4. Doa dan Harapan Disaat kita merasa nol, maka doa dan menangis adalah satu-satunya jalan untuk mensyukuri dan menetralkan emosi kita. Harapan yang menumpuk dalam otak akan penuh dan ketika semua tidak tercapai maka kepala akan meledak (biasa disebut dengan stress dan frustasi). Menangis merupakan salah satu cara bagi saya untuk mencairkan emosi dan passion dalam otak melalui air mata yang keluar. Dalam doa sebagai orang yang ber-Tuhan / makhluk maka hal ini sangat menenangkan bila dilakukan dengan menangis. 

Itulah beberapa hal yang dapat membuat saya menangis dan sejauh ini, saya pikir saya adalah orang yang sehat dan cukup cerdas dalam hal mengontrol emosi, terutama menangis sebagai salah satu bentuk ekspresi dan solusi pemecahan masalah. Banyak hal yang dapat menyentuh hati kecil/ dasar hati kita baik itu rasa simpati, rasa sedih, rasa marah, rasa penyesalan dan rasa syukur. Menangis bukan lah hal yang memalukan karena kita adalah manusia, bukan malaikat, dan hal yang memalukan adalah kalau kamu terlalu cengeng, gampang menangis. Tapi orang yang anti untuk menangis (sok cowok banget), perlu dipertanyakan apakah mereka masih punya hati atau tidak. Janganlah kita menjadi orang yang mudah untuk menangis, jadilah pribadi yang dewasa dan hanya dapat menangis pada saat dibutuhkan sehingga dapat menjadi pribadi dewasa yang anggun yang berhati baik.

Pembangunan yang Mengancam: Ancaman Bencana Berkelanjutan bagi Civitas UIN Imam Bonjol Padang

Sejak pertama kali mengajar di UIN Imam Bonjol Padang pada tahun 2019, saya menyaksikan perubahan besar yang terjadi di kampus, terutama den...