🌸terima kasih - syukran (شكرًا )
🌸sama sama - afwan ( عفواً )
🌸saya minta maaf - aaseef (asif) ( آسف )
🌸baiklah - hasanan ( حسناً )
🌸mungkin - rubbama (ربما )/yumkin ( يمكن )
🌸awas! - intabih ( انتبِه )
🌸berhati hatilah - ihzar ( احذر )
🌸jangan lupa - la tansa' ( لا تنسىٰ )
🌸samiinun - gemuk ( سمين )
🌸Thawiilun - panjang ( طويل )
🌸Qashiirun - pendek ( قصير )
🌸khofiidhun - rendah ( خفيض )
🌸nahiifun - kurus ( نحيف )
🌸yaum - hari ( يوم )
🌸usbu' - minggu ( أسبوع )
🌸syahr - bulan ( شهر )
🌸sanah - tahun ( سنة )
Ucapan dalam bahasa arab .
🌻Selamat malam - laila sa'idah ( ليلة سعيدة )
🌻sobahul khair - selamat pagi ( صباح الخير )
🌻ucapan balas sobahul khair - sobahannur ( صباح النور )
🌻semoga berjaya - bitaufiq wannajah ( بالتوفيق والنجاح )
🌻salam ukhuwah - salam perkenalan ( سلام اخوة )
🌻jazakallah khairan - semoga Allah membalas jasa kebaikanmu ( جزاك الله خيرا )
🌻naharuka sa'id - selamat siang ( نهارك سعيد )
🌻azhoma allahu ajrak - semoga Allah melipatgandakan pahalamu ( عظّم الله أجرك )
🌻uhibbuki - saya sayang kamu (perempuan) ( أحبكِ )
🌻uhibbuka- saya sayang kamu (lelaki) ( أحبكَ )
Ganti nama/personal pronouns
🙋..aku/saya - ana ( أنا )
👦..kamu (lelaki) - anta ( أنتَ )
👧..kamu (perempuan) - anti ( أنتِ )
👨..dia (lelaki -seorang ) - huwa ( هُوَ )
👩..dia (perempuan-seorang) - hiya ( هِيَ )
👬👭..dia (lelaki/perempuan -2orang) -huma ( هماَ )
👬👬..dia (lelaki -3 dan keatas) - hum ( هُمْ )
👭👭..dia (perempuan-3 dan keatas) - hunna ( هنَّ )
👪..kami - nahnu ( نحنُ )
👯👯..kalian (ramai) - antum ( أنتم )
👫👫..mereka - hum ( هُمْ )
😱 ..cantik = jamiilah ( جميلة )
😲..jelek = qabih ( قبيح )
😊..Bersih = nadziifun ( نظيف )
😪..Malas = kaslaan ( كسلان )
📚..Ata'allamu = saya belajar ( أتعلم )
🍔..a'kulu = saya makan ( أاكل )
🍹..Asyrobu = saya minum ( أشرب )
📖..Aqrou = saya membaca ( أقرا )
📝..aktubu = saya menulis ( أكتب )
📢🚶..Atakallamu = saya berbicara ( أتكلم )
✊..Amsiku = saya memegang ( أمسك )
💼..A'malu = saya mengerjakan ( أعمل )
👔..Albasu = saya memakai ( ألبس )
🚦..Toriiqon = jalan ( طريق )
🏡..Baytun = rumah ( بيت )
✏..Mirsamun = pensil ( مِرسم )
✒..Qolamun = pulpen ( قلم )
🚫..Mimsahatun = penghapus ( ممسحة )
💡..Mishbaahun = lampu ( مصباح )
📋..Sabbuurotun = papan tulis ( سبورة )
😃..Kaifa haluka?- apa khabar (lelaki) ( كيف حالكَ )
😄..Kaifa haluki?- apa khabar (perempuan) ( كيف حالكِ )
🏠..Askunu fi...- saya tinggal di ( ...أسكن في )
🙈..Umri- umur saya ( عمري )
😀..Ma ismuki? Siapa namamu (untuk perempuan) ( ما اسمكِ )
😉..Ma ismuka? Siapa namamu (untuk laki2) ( ما اسمكَ )
👧..Ana tilmiidzatun = saya seorang murid (untuk perempuan) ( انا تلميذة )
👦..Ana tilmiidzun = saya seorang murid (untuk laki2) ( انا تلميذ )
😴..Ahlam Saiidah = semoga mimpi indah ( احلام سعيدة )
😰..Syafakallah-smoga Allah menyembuhkn kamu ( شفاك الله )
🎵♪BELAJAR BAHASA ARAB♪🎵
👭*Ukhwahfillah = Persahabatan Krna Allah ( اخوة في الله )
👧*Ukhtun = Kakak @ Saudara Perempuan ( اخت )
👦*Akhun = Abang @ Saudara Lelaki ( أخ )
👳*Zauj = Suami @ Pasangan (L) ( زوج )
👰*Zaujah = Isteri @ Pasangan (P) ( زوجة )
🙏*Asiff Jiddan = Saya minta maaf sangat2 ( آسف جداً )
👯*Ukhwahfillah Abadan Abada = Psaudaraan krna Allah Selama2nya ( اخوة في الله أبداً ابدا )
💪*Fa'idza Adzamta fatawakkal'alallah = Apabila kmu telah brazam maka bertawakallah pd Allah ( فإذا عزمت فتوكل على الله )
😭*Inni Akhafullah = Sesungguhnya aku takut kepada Allah (إني أخاف الله)
😍*Maa fi Qalbi Ghairullah = Tiada di hatiku selain Allah ( مافي قلبي غير الله )
😅*Lau Samatha = Maafkan saya ( لَو سمحتَ )
😘*Naltaqi Ghadan = Kita jumpa besok ( نلتقي غداً )
👋*Illalliqa' = selamat berjumpa kembali ( الى اللقاء )
✌*Syafakallah = moga Allah myembuhkan kamu (L)(شفاكَ الله)
👌*Syafakillah = moga Allah myembuhkan kamu (P) (شفاكِ الله)
💁*Tafaddhol = Silakan (تفضل )
🙅*La Aadri/ la 'a'rif = Saya Tak Tahu ( لا أدري )
🙆*Maa fii Musykilah = tiada masalah ( مافي مشكلة )
👏*Jazakallahu khairan khatsiira = Smga Allah membalasmu dgn kbaikan yg banyak (L) ( جزاكَ الله خيراً كثيراً )
👍*Jazakillahu
smoga bermanfaat
Tuesday, March 15, 2016
Benarkah QS Al-Ma'idah: 51 melarang kita memilih non-muslim sebagai pemimpin?
Ini terjemah QS Al-Ma'idah: 51 yang belakangan ini banyak beredar:
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi "awliya" mu; sebagian mereka adalah "awliya" bagi sebagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi "awliya", maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim."
Kata "awliya" dalam Qs al maidah ayat 51 yang dijadikan alasan melarang mengangkat pemimpin kafir itu layak ditelaah kembali. Terjemahan Al-Qur'an depag menerjemahkannya sebagai "pemimpin". Konteks asbabun nuzul dan bacaan saya terhadap tafsir klasik semisal al Thabary dan Ibn Katsir tidak menunjukkan kata "awliya" dalam ayat di atas bermakna pemimpin, tapi semacam sekutu atau aliansi.
Penjelasan Tafsir Ibn Katsir mengenai asbabun nuzul QS al Maidah ayat 5:
"Para ulama tafsir berbeda pendapat mengenai penyebab yang melatarbelakangi turunnya ayat-ayat yang mulia ini. As-Saddi menyebutkan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan dua orang lelaki. Salah seorang dari keduanya berkata kepada lainnya sesudah Perang Uhud, "Adapun saya, sesungguhnya saya akan pergi kepada si Yahudi itu, lalu saya berlindung padanya dan ikut masuk agama Yahudi bersamanya, barangkali ia berguna bagiku jika terjadi suatu perkara atau suatu hal." Sedangkan yang lainnya menyatakan, "Adapun saya, sesungguhnya saya akan pergi kepada si Fulan yang beragama Nasrani di negeri Syam, lalu saya berlindung padanya dan ikut masuk Nasrani bersamanya." Maka Allah Swt. berfirman: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi "awliya" kalian....(Al-Maidah: 51). hingga beberapa ayat berikutnya.
Demikian penjelasan Ibn Katsir untuk kita lebih memahami konteks ayat di atas.
Ini ayat senada:
QS al -Nisa ayat 144:
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang kafir menjadi "awliya" dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kalian mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksa kalian)?"
Ayat 144 surat al Nisa di atas juga melarang kita mengambil orang non muslim sebagai "awliya". Mari kita cek apa penafsiran Ibn Katsir terhadap makna "awliya" dalam QS al Maidah ayat 51 sama maknanya dg QS al Nisa 144:
Kata Ibn Katsir:
"Allah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman mengambil orang-orang kafir sebagai "awliya" mereka, bukannya orang-orang mukmin. Yang dimaksud dengan istilah "awliya" dalam ayat ini ialah berteman akrab dengan mereka, setia, tulus dan merahasiakan kecintaan serta membuka rahasia orang-orang mukmin kepada mereka."
Jadi Tafsir Ibn Katsir tidak menafsirkan kata "awliya" sebagai pemimpin baik di QS al Ma'idah ayat 51 maupun an Nisa ayat 144. Yang dimaksud adalah temenan dalam arti bersekutu dan beraliansi dengan meninggalkan orang Islam. Bukan dalam makna larangan berteman sehari-hari. Konteks al Ma'idah ayat 51 itu saat muslim kalah dalam perang uhud. Jadi ada yg tergoda untuk menyeberang dengan bersekutu pada pihak yahudi dan nasrani. Itu yang dilarang.
Ibn Taimiyah mengingatkan kita:
فَإِنَّ النَّاسَ لَمْ يَتَنَازَعُوا فِي أَنَّ عَاقِبَةَ الظُّلْمِ وَخِيمَةٌ وَعَاقِبَةُ الْعَدْلِ كَرِيمَةٌ وَلِهَذَا يُرْوَى : ” اللَّهُ يَنْصُرُ الدَّوْلَةَ الْعَادِلَةَ وَإِنْ كَانَتْ كَافِرَةً وَلَا يَنْصُرُ الدَّوْلَةَ الظَّالِمَةَ وَإِنْ كَانَتْ مُؤْمِنَةً ”
"Sesungguhnya manusia telah sepakat bahwa akibat (atau efek) sikap zhalim adalah kebinasaan dan akibat sikap adil adalah kemuliaan. Oleh karena itu diriwayatkan bahwa Allah akan menolong negara yang adil meski ia kafir dan tidak akan menolong negara yang zalim, meski ia mukmin."
Dengan demikian, spirit Islam adalah keadilan, dan lawannya adalah kezhaliman. Kalau ada orang yang adil (mampu berbuat adil dan menegakkan keadilan) ya kita dukung meskipun dia bukan Muslim dan Allah akan menolong orang yang adil tersebut.
Kalau ada orang Muslim, yang bersikap zhalim dan melakukan kezhaliman, ya jangan didukung. Allah tidak akan menolong orang yang zhalim.
Sesederhana itu sebenarnya, tanpa harus emosi dan punya tendensi kepada isu politik praktis. Kita ngaji saja apa makna ayat tersebut dan gak usah ikut-ikutan menjadikan ayat itu seolah-olah sebagai "ayat pilkada" :)
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama
Australia - New Zealand
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi "awliya" mu; sebagian mereka adalah "awliya" bagi sebagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi "awliya", maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim."
Kata "awliya" dalam Qs al maidah ayat 51 yang dijadikan alasan melarang mengangkat pemimpin kafir itu layak ditelaah kembali. Terjemahan Al-Qur'an depag menerjemahkannya sebagai "pemimpin". Konteks asbabun nuzul dan bacaan saya terhadap tafsir klasik semisal al Thabary dan Ibn Katsir tidak menunjukkan kata "awliya" dalam ayat di atas bermakna pemimpin, tapi semacam sekutu atau aliansi.
Penjelasan Tafsir Ibn Katsir mengenai asbabun nuzul QS al Maidah ayat 5:
"Para ulama tafsir berbeda pendapat mengenai penyebab yang melatarbelakangi turunnya ayat-ayat yang mulia ini. As-Saddi menyebutkan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan dua orang lelaki. Salah seorang dari keduanya berkata kepada lainnya sesudah Perang Uhud, "Adapun saya, sesungguhnya saya akan pergi kepada si Yahudi itu, lalu saya berlindung padanya dan ikut masuk agama Yahudi bersamanya, barangkali ia berguna bagiku jika terjadi suatu perkara atau suatu hal." Sedangkan yang lainnya menyatakan, "Adapun saya, sesungguhnya saya akan pergi kepada si Fulan yang beragama Nasrani di negeri Syam, lalu saya berlindung padanya dan ikut masuk Nasrani bersamanya." Maka Allah Swt. berfirman: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi "awliya" kalian....(Al-Maidah: 51). hingga beberapa ayat berikutnya.
Demikian penjelasan Ibn Katsir untuk kita lebih memahami konteks ayat di atas.
Ini ayat senada:
QS al -Nisa ayat 144:
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang kafir menjadi "awliya" dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kalian mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksa kalian)?"
Ayat 144 surat al Nisa di atas juga melarang kita mengambil orang non muslim sebagai "awliya". Mari kita cek apa penafsiran Ibn Katsir terhadap makna "awliya" dalam QS al Maidah ayat 51 sama maknanya dg QS al Nisa 144:
Kata Ibn Katsir:
"Allah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman mengambil orang-orang kafir sebagai "awliya" mereka, bukannya orang-orang mukmin. Yang dimaksud dengan istilah "awliya" dalam ayat ini ialah berteman akrab dengan mereka, setia, tulus dan merahasiakan kecintaan serta membuka rahasia orang-orang mukmin kepada mereka."
Jadi Tafsir Ibn Katsir tidak menafsirkan kata "awliya" sebagai pemimpin baik di QS al Ma'idah ayat 51 maupun an Nisa ayat 144. Yang dimaksud adalah temenan dalam arti bersekutu dan beraliansi dengan meninggalkan orang Islam. Bukan dalam makna larangan berteman sehari-hari. Konteks al Ma'idah ayat 51 itu saat muslim kalah dalam perang uhud. Jadi ada yg tergoda untuk menyeberang dengan bersekutu pada pihak yahudi dan nasrani. Itu yang dilarang.
Ibn Taimiyah mengingatkan kita:
فَإِنَّ النَّاسَ لَمْ يَتَنَازَعُوا فِي أَنَّ عَاقِبَةَ الظُّلْمِ وَخِيمَةٌ وَعَاقِبَةُ الْعَدْلِ كَرِيمَةٌ وَلِهَذَا يُرْوَى : ” اللَّهُ يَنْصُرُ الدَّوْلَةَ الْعَادِلَةَ وَإِنْ كَانَتْ كَافِرَةً وَلَا يَنْصُرُ الدَّوْلَةَ الظَّالِمَةَ وَإِنْ كَانَتْ مُؤْمِنَةً ”
"Sesungguhnya manusia telah sepakat bahwa akibat (atau efek) sikap zhalim adalah kebinasaan dan akibat sikap adil adalah kemuliaan. Oleh karena itu diriwayatkan bahwa Allah akan menolong negara yang adil meski ia kafir dan tidak akan menolong negara yang zalim, meski ia mukmin."
Dengan demikian, spirit Islam adalah keadilan, dan lawannya adalah kezhaliman. Kalau ada orang yang adil (mampu berbuat adil dan menegakkan keadilan) ya kita dukung meskipun dia bukan Muslim dan Allah akan menolong orang yang adil tersebut.
Kalau ada orang Muslim, yang bersikap zhalim dan melakukan kezhaliman, ya jangan didukung. Allah tidak akan menolong orang yang zhalim.
Sesederhana itu sebenarnya, tanpa harus emosi dan punya tendensi kepada isu politik praktis. Kita ngaji saja apa makna ayat tersebut dan gak usah ikut-ikutan menjadikan ayat itu seolah-olah sebagai "ayat pilkada" :)
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama
Australia - New Zealand
Siapa Yang Kentut..? Silahkan Berdiri..!
Kisah #1
Dikisahkan, bahwa suatu hari para sahabat sedang berkumpul di masjid. Lalu terciumlah bau kentut diantara mereka, sehingga membuat para sahabat tidak tahan dengan bau tersebut, salah seorang dari mereka berdiri dan berkata,
“Barangsiapa yang kentut, silakan bangun”. Hening, tak seorang pun berdiri.
Ketika datang waktu Isya mereka berkata, “Orang yang kentut pasti akan berwudhu setelah ini. Orang itulah yang kentut”.
Setelah itu, para sahabat menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang keluar. Masih seperti tadi, tak seorang pun yang beranjak dari tempat duduknya, mungkin malu.
Lalu Bilal bangun untuk mengumandangkan adzan. Kemudian Nabi Muhammad berkata: “Tunggu dulu, aku belum batal, tapi aku hendak berwudhu lagi."
Lalu para sahabat pun ikut berwudhu dan tidak diketahui siapa yang kentut waktu itu.
Kisah #2
Usai shalat ashar di masjid Quba, seorang sahabat mengundang Nabi beserta jamaah untuk menikmati hidangan daging unta di rumahnya. Ketika sedang makan, ada tercium aroma tidak sedap.
Rupanya diantara yang hadir ada yang buang angin. Para sahabat saling menoleh. Wajah Nabi sedikit berubah tanda tidak nyaman.
Maka tatkala waktu shalat maghrib hampir masuk, sebelum bubar, Rasulullah berkata: "Barangsiapa yang makan daging unta, hendaklah ia berwudhu!".
Mendengar perintah Nabi tersebut maka seluruh jamaah mengambil air wudhu. Dan terhindarlah aib orang yang buang angin tadi.
Subhanallah. Sungguh, dalam diri Nabi terdapat teladan yang baik bagi kita semua.
Kisah #3
Kisah tentang menjaga perasaan saudara seiman pun juga terjadi pada seorang ulama, yaitu Syaikh Abdurrahman Hatim bin Alwan. Beliau merupakan salah satu ulama besar di Khurasan pada zamannya. Dikenal dengan Hatim Al A’sham, yang artinya Hatim si tuli.
Suatu ketika ada seorang wanita yang datang menemui beliau. Namun, tanpa sengaja ia kentut dengan suara yang cukup keras. Wanita itu salah tingkah, menahan malu. Lalu syaikh ini pura-pura tuli, dan meminta si wanita mengulangi pertanyaannya.
Dengan sikap sang syaikh, wanita itu pun merasa sedikit lega. Ia mengira sang syaikh benar-benar tuli. Lalu mereka berbicara dengan saling meninggikan suara.
Wanita itu hidup selama lima belas tahun setelah kejadian tersebut. Selama itu pula Syaikh Hatim pura-pura tuli. Hingga wanita itu meninggal, ia tak pernah tahu kepura-puraan beliau.
-----
Ketiga kisah di atas menceritakan bagaimana seharusnya seorang muslim menjaga kehormatan saudaranya. Bukan malah menertawakannya atau menyebarkan aibnya.
Abu Hurairah berkata, Nabi bersabda :
وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِماً سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كاَنَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ.
“... siapa yang menutupi (aib) seorang muslim, Allah akan tutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah selalu menolong hamba-Nya selama hamba-Nya menolong saudaranya.”
Dikisahkan, bahwa suatu hari para sahabat sedang berkumpul di masjid. Lalu terciumlah bau kentut diantara mereka, sehingga membuat para sahabat tidak tahan dengan bau tersebut, salah seorang dari mereka berdiri dan berkata,
“Barangsiapa yang kentut, silakan bangun”. Hening, tak seorang pun berdiri.
Ketika datang waktu Isya mereka berkata, “Orang yang kentut pasti akan berwudhu setelah ini. Orang itulah yang kentut”.
Setelah itu, para sahabat menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang keluar. Masih seperti tadi, tak seorang pun yang beranjak dari tempat duduknya, mungkin malu.
Lalu Bilal bangun untuk mengumandangkan adzan. Kemudian Nabi Muhammad berkata: “Tunggu dulu, aku belum batal, tapi aku hendak berwudhu lagi."
Lalu para sahabat pun ikut berwudhu dan tidak diketahui siapa yang kentut waktu itu.
Kisah #2
Usai shalat ashar di masjid Quba, seorang sahabat mengundang Nabi beserta jamaah untuk menikmati hidangan daging unta di rumahnya. Ketika sedang makan, ada tercium aroma tidak sedap.
Rupanya diantara yang hadir ada yang buang angin. Para sahabat saling menoleh. Wajah Nabi sedikit berubah tanda tidak nyaman.
Maka tatkala waktu shalat maghrib hampir masuk, sebelum bubar, Rasulullah berkata: "Barangsiapa yang makan daging unta, hendaklah ia berwudhu!".
Mendengar perintah Nabi tersebut maka seluruh jamaah mengambil air wudhu. Dan terhindarlah aib orang yang buang angin tadi.
Subhanallah. Sungguh, dalam diri Nabi terdapat teladan yang baik bagi kita semua.
Kisah #3
Kisah tentang menjaga perasaan saudara seiman pun juga terjadi pada seorang ulama, yaitu Syaikh Abdurrahman Hatim bin Alwan. Beliau merupakan salah satu ulama besar di Khurasan pada zamannya. Dikenal dengan Hatim Al A’sham, yang artinya Hatim si tuli.
Suatu ketika ada seorang wanita yang datang menemui beliau. Namun, tanpa sengaja ia kentut dengan suara yang cukup keras. Wanita itu salah tingkah, menahan malu. Lalu syaikh ini pura-pura tuli, dan meminta si wanita mengulangi pertanyaannya.
Dengan sikap sang syaikh, wanita itu pun merasa sedikit lega. Ia mengira sang syaikh benar-benar tuli. Lalu mereka berbicara dengan saling meninggikan suara.
Wanita itu hidup selama lima belas tahun setelah kejadian tersebut. Selama itu pula Syaikh Hatim pura-pura tuli. Hingga wanita itu meninggal, ia tak pernah tahu kepura-puraan beliau.
-----
Ketiga kisah di atas menceritakan bagaimana seharusnya seorang muslim menjaga kehormatan saudaranya. Bukan malah menertawakannya atau menyebarkan aibnya.
Abu Hurairah berkata, Nabi bersabda :
وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِماً سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كاَنَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ.
“... siapa yang menutupi (aib) seorang muslim, Allah akan tutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah selalu menolong hamba-Nya selama hamba-Nya menolong saudaranya.”
Tuesday, February 16, 2016
BERKAWAN ALA IMAM ASY SYAFI'I
قال الشافعي: احب الصالحين و لست منهم
لعلي أن أنال بهم شفاعة
وأكره من تجارته المعاصي
وإن كنا سواء في البضاعة
Berkata Imam Asy Syafi'i: "Aku mencintai para shalihin meski diri ini tak termasuk dalam kumpulannya. Semoga dengan cinta itu kan kuraih syafa'at bersama mereka. Dan aku tak suka pada dia yang maksiat menjadi perniagaannya. Meski kami dalam berbagai-bagai sama keadaannya."
قال الشافعي: "إذا كان لك صديق -يعينك على الطاعة- فشد يديك به؛ فإن اتخاذ الصديق صعب ومفارقته سهلة"
Berkata pula beliau: "Jika padamu ada kawan baik yang membantu dalam berketaatan, maka genggamlah erat dia di tangan. Sebab memperoleh sahabat sebenar amatlah sukar, adapun berpisah sangatlah mudah."
ﻣﺮﺽ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﺫﺍﺕ ﻳﻮﻡ ﻭﻻﺯﻡ ﺍﻟﻔﺮﺍﺵﻓﺰﺍﺭﻩ ﺻﺪﻳﻘﻪ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ رحمه الله ﻓﻠﻤﺎ ﺭﺃى ﻋﻠﻴﻪ ﻋﻼﻣﺎﺕ ﺍﻟﻤﺮﺽ ﺍﻟﺸﺪﻳﺪ أﺻﺎﺑﻪ ﺍﻟﺤﺰﻥ ﻓﻤﺮﺽ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺃﻳﻀﺎ ﻓﻠﻤﺎ ﻋﻠﻢ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﺬﻟﻚ، ﺗﻤﺎﺳﻚ ﻧﻔﺴﻪ ﻭﺫﻫﺐ ﻟﺮﺅﻳﺔ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻓﻲ ﺑﻴﺘﻪ فلما رآه الشافعي قال: ﻣﺮﺽ ﺍﻟﺤﺒﻴﺐ ﻓﺰﺭﺗﻪ ﻓﻤﺮﺿﺖ ﻣﻦ ﺍﺳﻔﻲ ﻋﻠﻴﻪ ﺷُﻔﻲ ﺍﻟﺤﺒﻴﺐ ﻓﺰﺍﺭﻧﻲ ﻓﺸُﻔﻴﺖ ﻣﻦ ﻧﻈﺮﻱ إليه
Pada suatu hari Imam Ahmad sakit, sampai harus terbaring di tempat tidurnya. Maka sahabat beliau, Imam Asy Syafi'i datang menjenguknya. Tatkala Imam Asy Syafi'i melihat gejala-gejala sakit berat pada diri Imam Ahmad, beliau sangat sedih, sehingga menjadi sakit pula karena hal itu sepulang dari besuknya. Ketika Imam Ahmad mengetahui hal ini, beliau menguatkan dirinya untuk menjenguk Imam Asy Syafi'i ke rumahnya. Ketika Imam Asy Syafi'i melihat kehadiran Imam Ahmad, beliau melantunkan syairnya: "Saudara terkasih sakit, maka akupun menjenguknya.
Maka sakitlah aku karena sedih atas keadaannya.Kala dirinya sembuh, diapun datang membesukku. Lalu akupun sembuh, karena bahagia melihatnya.
"Ya Allah, kami memohon cintaMu, cinta orang-orang yang mencintaiMu, dan cinta kepada segala yang mendekatkan kami pada cintaMu.
--- (Ust. Salim A Fillah , @salimafillah)
Berkata Imam Asy Syafi'i: "Aku mencintai para shalihin meski diri ini tak termasuk dalam kumpulannya. Semoga dengan cinta itu kan kuraih syafa'at bersama mereka. Dan aku tak suka pada dia yang maksiat menjadi perniagaannya. Meski kami dalam berbagai-bagai sama keadaannya."
قال الشافعي: "إذا كان لك صديق -يعينك على الطاعة- فشد يديك به؛ فإن اتخاذ الصديق صعب ومفارقته سهلة"
Berkata pula beliau: "Jika padamu ada kawan baik yang membantu dalam berketaatan, maka genggamlah erat dia di tangan. Sebab memperoleh sahabat sebenar amatlah sukar, adapun berpisah sangatlah mudah."
ﻣﺮﺽ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﺫﺍﺕ ﻳﻮﻡ ﻭﻻﺯﻡ ﺍﻟﻔﺮﺍﺵﻓﺰﺍﺭﻩ ﺻﺪﻳﻘﻪ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ رحمه الله ﻓﻠﻤﺎ ﺭﺃى ﻋﻠﻴﻪ ﻋﻼﻣﺎﺕ ﺍﻟﻤﺮﺽ ﺍﻟﺸﺪﻳﺪ أﺻﺎﺑﻪ ﺍﻟﺤﺰﻥ ﻓﻤﺮﺽ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺃﻳﻀﺎ ﻓﻠﻤﺎ ﻋﻠﻢ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﺬﻟﻚ، ﺗﻤﺎﺳﻚ ﻧﻔﺴﻪ ﻭﺫﻫﺐ ﻟﺮﺅﻳﺔ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻓﻲ ﺑﻴﺘﻪ فلما رآه الشافعي قال: ﻣﺮﺽ ﺍﻟﺤﺒﻴﺐ ﻓﺰﺭﺗﻪ ﻓﻤﺮﺿﺖ ﻣﻦ ﺍﺳﻔﻲ ﻋﻠﻴﻪ ﺷُﻔﻲ ﺍﻟﺤﺒﻴﺐ ﻓﺰﺍﺭﻧﻲ ﻓﺸُﻔﻴﺖ ﻣﻦ ﻧﻈﺮﻱ إليه
Pada suatu hari Imam Ahmad sakit, sampai harus terbaring di tempat tidurnya. Maka sahabat beliau, Imam Asy Syafi'i datang menjenguknya. Tatkala Imam Asy Syafi'i melihat gejala-gejala sakit berat pada diri Imam Ahmad, beliau sangat sedih, sehingga menjadi sakit pula karena hal itu sepulang dari besuknya. Ketika Imam Ahmad mengetahui hal ini, beliau menguatkan dirinya untuk menjenguk Imam Asy Syafi'i ke rumahnya. Ketika Imam Asy Syafi'i melihat kehadiran Imam Ahmad, beliau melantunkan syairnya: "Saudara terkasih sakit, maka akupun menjenguknya.
Maka sakitlah aku karena sedih atas keadaannya.Kala dirinya sembuh, diapun datang membesukku. Lalu akupun sembuh, karena bahagia melihatnya.
"Ya Allah, kami memohon cintaMu, cinta orang-orang yang mencintaiMu, dan cinta kepada segala yang mendekatkan kami pada cintaMu.
--- (Ust. Salim A Fillah , @salimafillah)
👆🏼📖 Bacaan Surat Setelah Al-Fatihah (Dari Sifat Sholat Nabi صلى الله عليه وسلم)
✒ Ustadz Yazid Bin Abdul Qadir Jawas
▶ Berikut summary dari diantara
bacaan-bacaan surah nabi صلى الله عليه وسلم setelah Al Fatihah berdasar hadits2 yang
shohih:
1⃣ Sholat Subuh
Rasulullah SAW biasanya memanjangkan
bacaan surah saat sholat subuh (thiwalul mufashshal)
a. Al Waqi'ah (96 ayat) dalam 2 rakaat
b. Ath Thur (49 ayat)
c. Surat Qaf (45 ayat) dan semisal pada
rakaat pertama
d. Yasin (83 ayat)
e. Ar Rum (60 ayat)
f. Ash Shaffat (182 ayat)
Terkadang beliau membaca surat yg
panjangnya pertengahan (wasathul mufashshal)
g. At Takwir (29 ayat)
h. Al Zalzalah (8 ayat)
2⃣. Sholat Subuh di Hari Jumat
a. As Sajdah (30 ayat) di rokaat pertama
dan
b. Al Insan (31 ayat) di rokaat ke 2.
3⃣ Sholat Qabliyah Subuh
Beliau membaca bacaan yang pendek
a. Al Baqarah ayat 136 di rakaat pertama
dan Ali Imran ayat 64 atau Ali Imran ayat 52 di rakaan kedua
b. Al Kafirun pada rakaat pertama dan Al
Ikhlas pada rakaat kedua
4⃣. Sholat Dzuhur
Beliau memanjangkan bacaan pada dua
rakaat pertama (sekitar 30 ayat) dan memendekannya di dua rakaar terakhir
(sekitar 15 ayat) atau hanya menbaca Al Fatihah saja
1. As Sajdah 30 ayat
2. Al A'la
3. Al Ghasyiyah
4. Al Buruj dan semisal
5. Ath Thariq dan semisal
6. Al Lail dan semisal
7. Al Insyiqaq dan semisal
dan surat lain sejenis
5⃣. Sholat Ashar
Beliau memanjangkan bacaan pada dua
rakaat pertama (sekitar 15 ayat) dan memendekannya di dua rakaar terakhir
(sekitar separonya) atau
Beliau juga membaca surah-surah yg
disebutkan dalan bacaan sholat Dzuhur.
6⃣. Sholat Maghrib
Beliau terkadang membaca surat-surat
pendek yang termasuk dalam kelompik surat Al-Mufashshal
1. Surat At-Tin (8 ayat) pada rakaat
kedua
2. Surat Ath-Thur (49 ayat)
3. Surat Al-Mursalat (50 ayat)
4. Terkadang membaca salah satu dari dua
surat panjang dalam dua rakaat), yaitu Al A'raf (206 ayat) dan Al Anfal (75
ayat)
7⃣ Sholat Isya
Pada dua rakaat pertana Rasulullah صلى الله عليه وسلم membaca surah dari kelompok yg
panjangnya pertengahan (wasathul mufashshal)
1. Surat Asy-Syams (15 ayat) dan semisal
2. Surat Al-Insyiqaq (25 ayat) dan beliau
sujud tilawah ketika membaca ayat sajdah
3. Surat At-Tin (8 ayat) di salah satu
dari dua rakaat
Rasulullah صلى الله عليه وسلم melarang memperpanjang bacaan
dalam sholat Isya.
Informasi tersebut berdasarkan hadits
shohih.
▶ Faedah Dari Hadits-Hadits Bacaan Shalat
Nabi صلى الله عليه وسلم
1⃣ Hukum asal membaca surat Al Fatihah
adalah wajib, adapun membaca surah dari Al Quran setelah Al Fatihah adalah
sunnah. Seandainya ada orang yang mencukupkan diri dengan membaca Al Fatihah
saja maka shalatnya tetap sah
(Shifatun Shalatin Nabiy hal 92-93)
2⃣ Dianjurkan membaca yang mudah dari Al
Qur'an berdasarkan firman Allah سبحانه وتعالى :
... فَٱقْرَءُوا۟ مَا تَيَسَّرَ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ ...
... karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu)
dari Al Quran ...
(QS Al-Muzzamil 73:20)
Juga berdasarkan sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم kepada orang yang shalatnya
buruk:
ثُمَّ اقْرَ اْ مَا تَيَسَّرَ لَكَ مِنَ الْقٌرْ آنْ ...
.... Kemudian bacalah ayat Al
Qur'an yang engkau hafal ...
(Shahih: HR Bukhari 757, 793, 6251, 6252,
6667, HR Muslim 397 dan sejenisnya)
3⃣ Nabi
صلى الله عليه وسلم ketika shalat Subuh membaca
bacaan yang panjang, ketika Zhuhur, Ashar dan Isya membaca surat-surat yang
sedang dan ketika Maghrib menbaca surat2 yang pendek
4⃣ Nabi
صلى الله عليه وسلم adalah orang yang paling
khusyuk dan tuma'ninah sholatnya dan sholat beliau paling sempurna serta
ringkas tidak terlalu panjang
5⃣ Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengajarkan dan berpesan
kepada para imam sholat apabila mengimamj sholat hendaknya ringkas tidak
terlalu lama.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ لِلنَّاسِ فَلْيُخَفِّفْ فَإِنَّ مِنْهُمْ الضَّعِيفَ وَالسَّقِيمَ وَالْكَبِيرَ وَإِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ لِنَفْسِهِ فَلْيُطَوِّلْ مَا شَاءَ,
Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah
bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Abu Az Zinad dari
Al A'raj dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda: "Jika seseorang dari kalian memimpin shalat orang banyak,
hendaklah dia meringankannya. Karena di antara mereka ada orang yang lemah,
orang yang sakit dan orang berusia lanjut. Namun bila dia shalat sendiri
silahkan dia panjangkan sesukanya.",
(HR. Bukhari: 703)
6⃣ Ketentuan tentang bacaan panjang dan
pendek melihat pada situasi dan kondisi maknum, jangan sampai menyusahkan
makmum
7⃣ Yang terpenting dalam sholat adalah
khusyuk, thuma'ninah, menyempurnakan rukun dan wajibnya sholat serta tidak
terburu-buru.
📚 Disummarykan dari buku
"Sifat Wudhu dan Shalat Nabi" by Yazid Bin Abdul Qadir Jawas
📝💡 Editted and Reposted
by Group Kajian WA ISLAMADINA (08170071531 & 087782400868)
SILAKAN BERGABUNG di Telegram Channel:
@kajianIslamadina ▶ KLIK : https://goo.gl/qSyuEO
Thursday, November 26, 2015
Sabda Diraja
Duhai fajar
kamis pagi
Inikah akhir
pertemuan kita?
Akulah Sirius di ufuk Baratmu
Menatap rembulan dipeluk Nebula
Tak diacuhkan tapi aku tetap setia
Menyanyikan lagu sendu
Hingga ujung malam memisahkan kita
Lihatlah!
Duhai fajar
kamis pagi
Inikah akhir
pertemuan kita?
Akulah Canopus di Tenggaramu
Menutup Neptunus rembulan dimuka
Tak diacuhkan tapi aku tetap setia
Membawakan puisi rindu
Hingga pangkal pagi memisahkan kita
Dengarlah!
Setiap malam
punya cerita
Kisah
pahlawan Candradimuka
Cerita
yang tak kusampaikan kepada pagi
Ingatlah!
Hanya Kesatria perkasa yang aku ajak
berlaga
Menyambung nyawa dua kali sepertiga
Maka akan kubalas segala baktinya
Setampuk kebajikan setara semesta
Sepucuk keikhlasan seluas jagat raya
Kamis,
26 November 2015
Saturday, November 21, 2015
Tawa Tangis Hujan
Hujan pun berhenti
Cahaya matahari sore
kembali meninggi
Langkah kaki yang
sempat terhenti,
Kulanjutkan kembali…
Di depan toko dekat
lampu merah tadi,
Di situlah aku
menitipkan resah hati ini
Aku yakin kamu tidak
melihat pria lusuh yang kedinginan ini berjalan kaki.
Di seberang jalan
dalam sebuah warung makan kamu sedang asik bercengkrama dengan lelaki berbaju
lebih rapi.
Hujan memang tidak selamanya
menenangkan
Setidaknya bagiku saat ini
Setiap tetesan air hujan dan gelak
tawamu seolah terdengar lebih keras ratusan kali lipat
Memekakkan telinga dan menyesakkan
dada
Dulu memang hujan
telah mempertemukan hati kita di tempat ini
Tempat yang sama
dengan pertemuanmu dengannya
Tapi tidak semua
hujan yang jatuh disambut lembut oleh bumi
Terkadang harus
terhempas dari kaca depan mobil, jatuh ke aspal baru mengalir ke tanah
pinggiran trotoar.
Atau saling berpacu
agar segera kembali ke dasar selokan mataram.
Namun, seperti kita,
hujan kadang tertawa dan menangis bersamaan.
Tapi aku yakin setiap
takdir hujan selalu lah baik
Air hujan selalu tahu
tempat untuk kembali
Mungkin sudah saatnya aku
membiasakan diri,
Untuk selalu membawa payung iman
agar tak tek tergoda untuk sejenak berhenti,
Atau harus memilih jalan lain
untuk segera pulang meski berjalan di bawah hujan
Karena hati yang dibangun
ditengah hujan hanya lah sementara seperti sandiwara dunia
Hati yang abadi adalah yang disucikan
untuk Pemiliknya menuju tempat akhir ia kembali.
Yogyakarta, 21
November 2015
Subscribe to:
Posts (Atom)
Pembangunan yang Mengancam: Ancaman Bencana Berkelanjutan bagi Civitas UIN Imam Bonjol Padang
Sejak pertama kali mengajar di UIN Imam Bonjol Padang pada tahun 2019, saya menyaksikan perubahan besar yang terjadi di kampus, terutama den...
-
Journal Citation Reports (JCR) adalah alat yang digunakan untuk mengevaluasi dan membandingkan jurnal ilmiah. JCR menyediakan metrik dan da...
-
LOGO UMRI TERBARU 2018 Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) Pekanbaru yang berdiri sejak tahun 2008 melakukan perubahan logo dari logo lam...
-
Switch merupakan sebuah device pengembangan dari Hub. Switch lebih aman dan digunakan pada hampir semua jaringan lokal yang ada pada saat i...

